21/12/18

Petani Kelapa di Banyuasin Segera Di Tingkatkan


Kb. Com - Penurunan harga jual  yang cukup signifikan saat ini berimbas ke kehidupan petani kelapa kian miris.gejolak harga yang sudah tejadi sejak setahun terakhir ini membuat petani kelapa ada yang harus menjual kebun, anak-anak petani stop kuliah hingga petani harus menumpuk utang di agen kelapa.Sebab, dengan harga sekarang Rp 300 untuk upah, Rp 200 untuk perbaikan dan perawatan lahan sehingga petani hanya memperoleh pendapatan bersih berkisar Rp 500 ribu -1 juta setiap masa panen (pertiga bulan), padahal dulu bisa Rp 5 juta perhektar.
"Walau mereka masih berharap harga kelapa membaik, petani tanpa ada perjanjian dan hanya berlandaskan kepercayaan mereka kemudian hutang dulu ke agen dan bayar jika sudah panen. Sebab, selama ini belum ada bentuk permodalan atau koperasi dari Pemerintah," ungkapnya, usai rapat Rapat membahas mekanisme Tata Niaga Kelapa agar Harga di tingkat Petani dapat stabil serta Pengembangan industri kecil kelapa di Kab. Banyuasin, Kamis (20/12/2018).
Selain itu, mata rantai pasar kelapa juga terlalu panjang, mulai dari Petani ke agen saja bisa tiga tahapan belum lagi hubungan ke eksportir sehingga memakan biaya Rp 100-Rp 500, dengan negara tujuan ekspor yakni Cina dan Thailand.
"Jadi harus ada intervensi di pasarnya untuk menyikapi permasalahan harga ini, artinya untuk melihat apakah memang harga pasaran turun sebegitu atau karena ada permainan. Kalau di tingkat pengusaha masih diangka Rp 2.000, jadi ada selisih harga cukup besar sementara saat dicek pada produk turunannya tak mengalami penurunan," jelasnya.

"Namun, dengan kapasitas tampung pabrik 7.000 ton yang disampaikan dalam rapat tadi belum bisa menyerap semua, artinya masih bisa ketergantungan dengan Eksportir, karena 70 persen kelapa kita yang diekspor sedangkan 30 persennya yang berputar di pasar lokal seperti ke pasar tradisional di Sumsel dan Lampung," jelasnya.
Selama ini, ungkap Asri, yang diproduksi IKM adalah sisa sortiran ekspor. Jadi yang pecah diproduksi sementara grade A nya di ekspor."Ekspor kelapa dalam bentuk butir kelapa yang dikemas dalam karung. Dalam satu agen, bisa ekspor 40 kontainer perminggu," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Biro Perekonomian Provinsi Sumatera Selatan, Afrian John menjelaskan, Pemprov Sumsel telah berkomitmen untuk percepatan dalam rangka meningkatkan pendapatan petani dan pengrajin kelapa khususnya di Banyuasin.
Beberapa solusi yang disiapkan, di antaranya melakukan pendekatan semacam inti plasma, dimana akan ada perusahaan induk yang akan memproduksi industri kelapa dan membawahi pengrajin kelapa.
"Sejauh ini sudah ada eksportir cuma memang belum optimal. Untuk Sentra Industri Kecil dan Menengah (SIKIM) yang merupakan program Kementerian Perindustrian inilah yang akan dioptimalkan lagi. Nantinya, SIKIM akan bekerjasama dengan pihak ketiga untuk melakukan hilirisasi kelapa, aplikasinya akan dimulai 2019," jelasnya. (RedEa


EmoticonEmoticon