10/04/17

Warga Semuntul Resah Terhadap Dugaan Adanya Aliran Menyimpang


Rantau Bayur, kabarbanyuasin.com – Tak hanya ajarannya yang diduga sesat, terkait aliran yang berkembang di Desa Semuntul, Kecamatan Rantau Bayur, Kabupaten Banyuasin. Warga desa setempat, juga mulai mempersoalkan kedatangan jemaah dari luar Banyuasin. Menetap dan mendirikan gubuk tanpa izin dan melapor.
Diketahui, kegiatan yang berlangsung di Masjid An Nur itu, diketuai Gindar Tamimi (35). Ajarannya, menikahkan anak di bawah umur kepada jemaah, agar orang tuanya masuk surga. Tata cara pernikahan, pada jam 1 dini hari. Kemudian, melarang membaca surah yasin di tempat orang meninggal dunia.
DE, tokoh agama Desa Semuntul, menyatakan kekhawatirannya dengan kedatangan orang dari luar yang ikut jemaah pengajian tersebut. Jemaahnya sekitar 50 orang, dari Lampung, Palembang, dan lainnya. “Kami resah, apalagi tidak pernah melapor,” sesalnya.
Disebutnya, jemaah pengajian tersebut tidak berbaur dengan warga sekitar. Sehingga dia pun sulit mendapatkan informasi ajaran pengajian, yang tidak memiliki nama tersebut. “Kami berharap pemerintah dan instansi terkait, agar cepat menindaklanjutinya. Agar tidak terjadi polemik,” harapnya.
Kapolres Banyuasin AKBP Andri Sudarmadi SIk, ketika dikonfirmasi pihaknya terus memantau ajaran pengajian di Desa Semuntul itu. Meski info awal, anggotanya belum menemukan penyimpangan. “Tentang pernikahan tersebut benar, dan itu terjadi sekitar dua tahun yang lalu. Namun itu atas permintaan dari orang tua pihak perempuan,” katanya.
Kantor Kementerian Agama Banyuasin, mengklaim akan membentuk tim investigasi. Melibatkan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB), Kesbangpol, serta Polres Banyuasin. Mereka belum bisa menyimpulkan sesat tidaknya aliran pengajiaan tersebut, sebelum turun langsung ke Desa Sementul.
sumber : sumeks


EmoticonEmoticon